Seorang muslim yang mengaku mencintai Rasulullah , semestinya dia selalu berusaha untuk meneladani sunnah beliau dalam kehidupannya, terlebih lagi jika dia mengaku sebagai ahlus sunnah.
Karena konsekwensi utama seorang yang mengaku mencintai beliau adalah selalu berusaha mengikuti semua petunjuk dan perbuatan beliau .
Allah berfirman :
{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ ويَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ}
“Katakanlah : Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran : 31).
Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini berkata :
“Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah , maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaannya”
[Tafsir Ibnu Katsir (1/477)].
Rasulullah memberikan anjuran khusus bagi orang yang selalu berusaha mengamalkan sunnah beliau , terlebih lagi sunnah yang telah ditinggalkan kebanyakan orang.
Beliau bersabda :
“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran, kesabaran di hari itu seperti menggenggam bara api, bagi yang beramal (dengan Sunnah Nabi) pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh.” Seseorang bertanya : “Lima puluh dari mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab : “Pahala lima puluh dari kalian.”
(Shahih, HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 494 dan kitab Al-Qabidhuna ‘Alal Jamr)
Di hadits yang lain Nabi bersabda :
“Sesungguhnya Islam berawal dengan keasingan dan akan kembali kepada keasingan sebagaimana awalnya maka bergembiralah bagi orang-orang yang asing.” Rasulullah ditanya : “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Jawab beliau : “Yaitu yang melakukan perbaikan ketika manusia rusak.”
(Shahih, HR. Abu ‘Amr Ad-Dani dari shahabat Ibnu Mas’ud z, lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 1273)
((من أحيا سنة من سنتي فعمل بها الناس، كان له مثل أجر من عمل بها، لا ينقص من أجورهم شيئاً))
“Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun”
(Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam kitab Shahih sunan Ibnu Majah” (no. 173).
“Sesungguhnya setiap amalan itu ada masa giatnya dan setiap giat itu ada masa jenuhnya maka barangsiapa yang jenuhnya itu kepada Sunnahku berarti ia mendapatkan petunjuk dan barangsiapa yang masa jenuhnya itu kepada selainnya maka ia binasa.”
(Shahih, HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Ibnu ‘Amr, lihat Shahihul Jami’ no. 2152)
Hadits yang diatas ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah , terlebih lagi sunnah yang telah ditinggalkan kebanyakan orang
Bahkan para ulama menjelaskan bahwa orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah akan mendapatkan dua keutamaan (pahala) sekaligus, yaitu keutamaan mengamalkan sunnah itu sendiri dan keutamaan menghidupkannya di tengah-tengah manusia yang telah melupakannya.
Syaikh Muhammad bih Shaleh al-’Utsaimin berkata :
“Sesungguhnya sunnah Rasulullah jika semakin dilupakan, maka (keutamaan) mengamalkannya pun semakan kuat (besar), karena (orang yang mengamalkannya) akan mendapatkan keutamaan mengamalkan (sunnah itu sendiri) dan (keutamaan) menyebarkan (menghidupkan) sunnah dikalangan manusia”.
[Kitab “Manaasikul hajji wal ‘umrah” (hal. 92).]
Semoga kita diberi keluasan ilmu, untuk selalu istiqamah menjalankan syari'at Allah dan sunnah-sunnah Rasul-Nya, Aamiin.
________________
Sumber :
http://asysyariah.com/menghidupkan-sunnah-nabi-yang-kian-terasing/