Jumat, 31 Agustus 2012

BERSIH SEBAGIAN DARI IMAN Assalamualaikum wr wb Bissmillaahirrohmaanirrohim Dari Abu Malik, Al Harits bin Al Asy'ari ra, ia berkata: ''Telah bersabda Rasulullah saw: ''Suci itu sebagian dari iman, (bacaan) Alhamdulillaah memenuhi timbangan, (bacaan) Subhaanallaah dan alhamdulillah keduanya memenuhi ruang yang ada di antara langit dan bumi. Sholat itu adalah nur, shadaqah adalah pembela, sabar adalah cahaya, dan Al Qur'an menjadi pembela kamu atau musuh kamu. Setiap manusia bekerja, lalu dia menjual dirinya, kemudian pekerjaan itu dapat menyelamatkannya atau mencelakakannya.'' (HR. Muslim) Saudaraku yang dirahmati Allah, hadist ini memuat salah satu pokok ajaran Islam dan memuat salah satu dari kaedah penting Islam dan agama. Adapun yang dimaksud dengan kata ''Suci'' ialah perbuatan bersuci. Terdapat perbedaan pendapat tentang maksud kalimat ''Suci itu sebagian dari iman,'' yaitu: pahala suci merupakan sebagian dari pahala iman, sedangkan yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan iman disini adalah shalat, sebagaimana firman Allah : ''Allah tidak menyia-nyiakan iman(shalat) kamu.'' (Al Baqarah (2) ayat 143) Thaharah atau bersuci merupakan salah satu dari syarat sahnya shalat. Jadi, bersuci merupakan sebagian pekerjaan shalat. Sabda Nabi Muhammad saw:''(bacaan) alhamdulillah memenuhi timbangan orang yg mengucapkannya. Dalam Al Qur'an dan Sunnah diterangkan tentang timbangan amal, berat dan ringannya. Begitu juga sabda Muhammad saw ''(bacaan) Subhannallah dan alhamdulillaah keduannya memenuhi ruang yang ada di antara langit dan bumi.'' Hal ini karena besarnya keutamaan ucapan tsb yg berisi menyucikan Allah dari segala sifat kekurangan dan cacat. Sabda Rasulullah saw, ''Shalat itu adalah nur'' maksudnya ialah shalat itu mencegah perbuatan maksiat, merintangi perbuatan2 keji dan mungkar, serta menunjukkan ke jalan yang benar, sebagaimana cahaya yg dijadikan orang sbg penunjuk jalan. Sebagian yg lain berpendapat bahwa yg dimaksudkan, shalat itu kelak akan menjadi petunjuk jalan bagi pelakunya di hari kiamat. Sedangkan sebagian yg lain lagi berpendapat bahwa shalat seseorang kelak akan menjadi cahaya yg memancar di wajahnya di hari kiamat, dan ketika di dunia menjadikan wajah pelakunya cemerlang, yang mana hal ini tidak diperoleh orang-orang yg tidak shalat. Wallahu a'lam. Tentang sabda Nabi Muhammad saw:''shadaqah adalah pembela'', pengarang kitab At Tajrid mengatakan, maksudnya ialah dia akan membutuhkan pembelaan dari shadaqah (zakat)nya, sebagaimana ia membutuhkan pembelaan dg berbagai bukti2 yg dapat menyelamatkannya dari hukuman. Seolah-olah seseorang jika kelak di hari kiamat dimintai tanggung jawab dalam membelanjakan hartanya, maka shadaqah (zakat)nya dapat menjadi pembela bagi dirinya dalam memberikan jawaban. Pendapat lain mengatakan bahwa maksudnya ialah shadaqah (zakat)nya menjadi bukti keimanan pelakunya. Hal ini karena orang yang munafik tidak mau mengeluarkan zakat karena tidak meyakininya. Barang siapa yg mengeluarkan zakat, hal itu menunjukkan kekuatan imannya. Sabda Nabi Muhammad saw: ''sabar adalah cahaya'' maksudnya sabar itu sifat yg terpuji dalam agama, yaitu sabar dalam melaksanakan ketaatan dan dalam menjauhi kemaksiatan. Demikian juga sabar menghadapi hal yg tidak disenangi di dunia ini. Maksudnya, sabar itu sifat yg terpuji yg selalu membuat pelakunya memperoleh petunjuk untuk mendapatkan kebenaran. Ibrahim Al Khawash berkata: ''Sabar itu teguh berpegang kpd Al Qur'an dan Sunnah.''Ada yg berkata:''Sabar yaitu teguh menghadapi segala macam cobaan dg sikap dan perilaku yg baik.'' Abu 'Ali Ad Daqqaq berkata: ''Sabar yaitu sikap tidak mencela taqdir. Akan tetapi, sekedar menyatakan keluhan ketika menghadapi cobaan tidaklah dikatakan menyalahi sifat sabar.'' Allah berfirman tentang kasus Nabi Ayyub: ''Sungguh Kami mendapati dia seorang yang sabar, hamba yang sangat baik, dan orang yang suka bertobat.'' (Shaad (38) ayat 44) Padahal Nabi Ayyub pernah mengeluh dg berkata: ''Sungguh bencana telah menimpaku dan Engkau (Ya Allah) adalah Tuhan yang paling berbelas kasih.'' (Al Anbiyya' (21) ayat 83) Sabda Nabi saw : '' Al Qur'an menjadi pembela kamu atau musuh kamu'', maksudnya jelas, yaitu bermanfaat jika kamu baca dan kamu amalkan, tetapi jika tidak, akan menjadi musuh kamu. Sabda Nabi saw : ''Setiap manusia bekerja, lalu dia menjual dirinya, kemudian pekerjaan itu dapat menyelamatkan atau mencelakakannya,'' maksudnya setiap orang yg bekerja untuk dirinya. Ada orang yg menjual dirinya kpd Allah dengan berbuat ketaatan kepada-Nya sehingga dirinya selamat dari adzab, seperti firman Allah: '' Sungguh Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka, sehingga mereka mendapatkan surga.'' (At Taubah (9) ayat 111). Ada orang yg menjual dirinya kepada setan dan hawa nafsunya dg mengikuti bisikan2nya shg dirinya jadi celaka. Audzubilla Mindaliq! Wallahu'alam biishawab Wassalamu' alaikum wr wb,,

Selasa, 28 Agustus 2012

MINTALAH TOLONG KEPADA ALLAH Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Bissmillaahirrohmaanirrohiim. Dari Abu Al'Abbas, 'Abdullah bin 'Abbas ra, ia berkata: ''Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi Muhammad saw, beliau bersabda: ''Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.'' (HR. Tirmidzi ) Dalam riwayat selain Tirmidzi: ''Hendaklah kamu selalu selalu mengingat Allah, pasti kamu mendapati-Nya dihadapanmu. Hendaklah kamu mengingat Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingat kamu di waktu sempit (susah). Ketahuilah bahwa apa yang semestinya tidak menimpa kamu, tidak akan menimpamu, dan apa yang semestinya menimpamu tidak akan terhindar darimu. Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran dan sesunggunya kesenangan menyertai kesusahan dan kesulitan.'' Saudaraku yang dirahmati Allah, riwayat hidup 'Abdullah bin 'Abbas sudah banyak dikenal. Baginda Rassulullah saw mendo'akannya dengan sabdanya: ''Ya Allah, jadikan dia paham tentang agamanya dan ajarkanlah kepadanya penafsiran Al Qur'an.'' (HR. Ahmad ) Kanjeng Nabi juga mendo'akannya agar diberi hikmah dua kali. Ada riwayat yang sah dari dirinya bahwa dia pernah melihat Jibril dua kali. Ia adalah ulama yang kaya ilmu dikalangan umat Islam. Rasulullah saw melihatnya sebagai seorang anak yang patut menerima pesan beliau. Rasulullah saw bersabda kepadanya: ''Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu, '' maksudnya hendaklah kamu menjadi orang yang taat kepada Tuhanmu, melaksanakan semua perintah-Nya, dan menjauhi semua larangan-Nya. Sabda Rasulullah saw : '' Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia dihadapanmu,'' maksudnya hendaklah beramal karena-Nya dengan penuh ketaatan sehingga Allah tidak memandangmu sebagai orang yang menyalahi perintah-Nya, niscaya kamu akan mendapati Allah menjadi penolongmu di saat situasi sulit, seperti yang pernah terjadi pada kisah tiga orang yang tertimpa hujan lebat lalu mereka berlindung di dalam gua, kemudian pintu gua tertutup batu. Pada saat itu mereka berkata kepada sesamanya: ''Ingatlah kebaikan yang pernah kamu lakukan, lalu mohonlah kepada Allah dengan kebaikan itu supaya kamu diselamatkan.'' Kemudian masing-masing menyebut kebaikan yang pernah dilakukan, maka batu penutup gua itu kemudian terbuka lalu mereka dapat keluar. Kisah mereka ini populer dan terdapat pada Hadist shahih. Sabda Nabi Muhammad saw: '' Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah,'' maksudnya memberikan petunjuk supaya bertawakal kepada Allah, tidak bertuhan kepada selain Allah, tidak menggantungkan nasibnya kepada siapapun baik sedikit maupun banyak. Allah berfirman: ''Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah maka Allah pasti akan memberinya kecukupan.'' ( Ath Thalaq (65) ayat 3 ) Berapa besarketergantungan seseorang kepada selain Allah baik dalam hatinya maupun dalam angan-angannya, maka sebesar itu pula ia telah menjauhkan diri dari Allah untuk bergantung pada sesuatu yang tidak kuasa memberinya manfaat atau kerugian. Begitu juga takut kepada selain Allah. Dalam hal ini Rasulullah saw menegaskan dengan sabdanya: ''Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu.'' Begitu pula dalam hal kerugian, ''niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu.'' Inilah yang disebut iman kepada takdir. Iman kepada takdir adalah wajib, baik takdir yang baik maupun yang buruk. Apabila seorang mukmin telah yakin dg hal ini, maka apa perlunya dia meminta kpd selain Allah atau memohon pertolongan kepada yang lain. Begitu pula jawaban Nabi Muhammad saw kpd malaikat Jibril ketika ia bertanya kepada beliau saat berada di langit (ketika mi'raj): ''Apakah engkau mebutuhkan pertolongan?'' Beliau menjawab: '' Kalau kepadamu tidak.'' Sabda Nabi Muhammad saw:''Segenap pena telah diamgkat dan lembaran-lembaran telah kering'' menguatkan keterangan tsb diatas, maksudnya tdk berlawanan dg apa yg telah dijelaskan sebelumnya. Kemudian sabda Beliau: ''Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran dansesungguhnya kesenangan menyertai kesusahan dan kesulitan,'' maksudnya Beliau mengingatkan kpd manusia di dunia ini, terutama orang2 shalih bahwa mereka itu selalu dihadapkan kpd ujian dan cobaan. Wallahu'alam biishawab,, Barakallah fiikum wa jazakumullah khairan khatsiran Wassalamu'alaikum wr wb.

Senin, 27 Agustus 2012

SETELAH MELAKUKAN KESALAHAN DISUSUL DENGAN KEBAIKAN Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh Bissmillaahirrohmaanirrohiim Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah, dan Abu 'Abdurrahman, Mu'adz bil Jabal ra, dari Rasulullah saw, Beliau bersabda: ''Bertaqwalah kepada Allah dimana saja engkau berada, dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya, dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik.'' (HR. Tirmidzi, ia telah berkata: Hadist ini hasan, pada lafadzh lain hasan shahih) Saudaraku yang dirahmati Allah, riwayat hidup Abu Dzar itu banyak. Ia masuk Islam ketika Rasulullah saw masih di Makkah, dan beliau menyuruhnya kembali kepada kaumnya. Namun ketika Rasulullah saw menyaksikan tekadnya untuk tinggal di Makkah bersama beliau, maka Rasulullah saw tidak mampu lagi mencegahnya. Sabda Rasulullah saw kepada Abu Dzar: ''Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapusnya.'' Hal ini sejalan dengan firman Allah: ''Sesungguhnya segala amal kebajikan menghapus segala perbuatan dosa.'' (Huud (11) ayat 114) Sabda beliau,''bergaullah sesama menusia dengan akhlaq yang baik'', maksudnya bergaullah dengan manusia dengan cara-cara yang kamu merasa senang bila diperlakukan oleh mereka dengan cara seperti itu. Ketahuilah bahwa yang paling berat timbangannya di akhirat kelak adalah akhlaq yang baik. Rasulullah saw bersabda: ''Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kamu dan yang paling dekat kepadaku posisinya pada hari kiamat adalah orang-orang yang paling baik akhlaqnya di antara kamu.'' (HR Tirmidzi, Ahmad no. 17066) Saudaraku yang dirahmati Allah, akhlaq yang baik adalah sifat para nabi, para rasul, dan orang-orang mukmin pilihan. Perbuatan buruk hendaklah tidak dibalas dengan keburukan, tetapi dimaafkan dan diampuni serta dibalas dengan kebaikan. Wallahu'alam biishawab Barakallahu fiikum wa jazakumullah khairan khatsiran Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. ~* GL*~

~¤> ISTIQAMAH <¤~ Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh Bissmillaahirrohmaanirrohiim Dari Abu'Amr- atau Abu 'Amrah- , Sufyan bin 'Abdullah ra , ia berkata: ''Aku telah berkata: ''Wahai Rassulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seseorang pun kecuali kepadamu.'' Bersabdalah Rasulullah saw : ''Katakanlah: Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamalah kamu.'' (HR. Muslim) Saudaraku yang dirahmati Allah, kalimat ''katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakan kepadaku seorang pun kecuali kepadamu,'' maksudnya adalah ajarkanlah kepadaku satu kalimat yang pendek, padat berisi tentang pengertian Islam yang mudah saya mengerti, sehingga saya tidak lagi perlu penjelasan orang lain untuk menjadi dasar saya beramal. Maka Rasulullah saw menjawab: ''Katakanlah: '' Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamalah kamu.'' Ini adalah kalimat pendek, padat berisi yang Allah berikan kepada Rasulullah saw. Dalam dua kalimat ini telah terpenuhi pengertian iman dan islam secara utuh. Beliau menyuruh orang tersebut untuk selalu memperbaruhi imannya dengan ucapan lisan dan mengingat dalam hati, serta menyuruh dia secara teguh melaksanakan amal-amal shalih dan menjauhi semua dosa. Hal ini karena seseorang tidak dikatakan istiqamah jika ia menyimpang walaupun hanya sebentar. Hal ini sejalan dengan firman Allah: ''Sesungguhnya mereka yang berkata : Allah adalah Tuhan kami kemudian mereka istiqamah...'' (Fushshilat (41) ayat 30) yaitu iman kepada Allah semata-mata kemudian hatinya tetap teguh pada keyakinannya itu dan taat kepada Allah sampai mati. 'Umar bin Khaththab berkata: ''Mereka (para sahabat) istiqamah demi Allah dalam menaati Allah dan tidak sedikitpun mereka itu berpaling, sekalipun seperti berpalingnya musang.'' Maksudnya, mereka lurus dan teguh dalam melaksanakan sebagian besar ketaatannya kepada Allah, baik dalam keyakinan, ucapan, maupun perbuatan dan mereka terus-menerus berbuat begitu (sampai mati). Demikianlah pendapat sebagian besar para mufasir. Inilah makna Hadist tersebut, Insya Allah. Begitu pula firman Allah: ''Maka hendaklah kamu beristiqamah seperti yang diperintahkan kepadamu.'' (Huud (11) ayat 112) Menurut Ibnu 'Abbas, tidak satu pun ayat Al Qur'an yang turun kepada Nabi Muhammad saw yang dirasa lebih berat dari ayat ini. Oleh karena itu, Nabi Muhammad pernah bersabda: ''Aku menjadi beruban karena turunnya Surat Huud dan sejenisnya.'' (HR. Thabrani, dlm kitab Al Mu'jam Al Kabii) Abdul Qasim Al Qusyairi berkata: ''Istiqamah adalah satu tingkatan yang menjadi penyempurna dan pelengkap semua urusan. Dengan istiqamah, segala kebaikan dengan semua aturannya dapat diwujudkan.Orang yang tidak istiqamah di daam melakukan usahanya, pasti sia-sia dan gagal.'' Ia berkata pula:''Ada yang berpendapat bahwa istiqamah itu hanyalah bisa dijalankan oleh orang-orang besar, karena istiqamah adalah menyimpang dari kebiasaan, menyalahi adat dan kebiasaan sehari-hari, teguh di hadapan Allah dengan kesungguhan dan kejujuran. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw bersabda: ''Istiqamalah kamu sekalian, maka kamu akan selalu diperhitungkan orang.'' (HR. Ibnu Majah, no 273) Al Washiti berkata:''Istiqamah adalah sifat yang dapat menyempurnakan kepribadian seseorang dan tidak adanya sifat ini rusaklah kepribadian seseorang.'' Wallaahu a'lam biishawab . Barakallahu fiikum wa jazakumullah khairan khatsiran. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. ~¤¤ GL ¤¤~

Sabtu, 25 Agustus 2012

MEMBANTU KESULITAN SESAMA MUSLIM Assalamualaikum wr wb,,, Bissmillahirrohmaanirrohiim,,,,, Dari Abu Hurairah.r.a dari Nabi Muhammad saw , Beliau bersabda:''Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah senantiasa akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya. Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, pasti Allah memudahkan baginya jalan ke surga. Apabila berkumpul suatu kaum di salah satu masjid untuk membaca Al Qur'an secara bergantian dan mempelajarinya, niscaya mereka akan diliputi sakinah (ketenangan), diliputi rahmat, dan dinaungi malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk-makhluk lain di sisi-Nya. Barang siapa yang lambat amalannya, maka tidak akan dipercepat kenaikan derajatnya.'' (HR. Muslim) Hadist ini amat berharga, mencakup berbagai ilmu, prinsip-prinsip agama, dan akhlaq. Hadist ini memuat keutamaan memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang mukmin, memberi manfaat kepada mereka dengan fasilitas ilmu, harta, bimbingan, atau petunjuk yang baik, atau nasihat dan sebagainya. Kalimat''barang siapa yang menutupi aib seorang muslim'', maksudnya menutupi kesalahan orang-orang yang baik, bukan orang-orang yang sudah dikenal suka berbuat kerusakan. Hal ini berlaku dalam menutup perbuatan dosa yang terjadi dan telah berlalu. Adapun bila diketahui orang tersebut suka berbuat maksiat, maka hendaklah ia segera mencegah dan menghalanginya. Jika tidak mampu mencegahnya, hendaklah diadukan pada kepada penguasa, sekiranya langkah ini tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar. Adapun orang yang sudah tahu bahwa hal itu maksiat tetapi tetap melanggarnya, hal itu tidak perlu ditutupi, karena menutup kesalahannya dapat mendorong dia melakukan kerusakan dan tindakan menyakiti orang lain serta melanggar hal-hal yang haram dan menarik orang lain untuk berbuat serupa. Dalam hal semacam ini dianjurkan untuk mengadukannya kepada penguasa, jika yang bersangkutan tidak khawatir terjadi bahaya. Begitu pula halnya dg tindakan mencela rawi hadist, para saksi, pemungut zakat, pengurus waqaf, pengurus anak yatim, dan sebagainya, wajib dilakukan jika diperlukan. Tidaklah dibenarkan menutupi cacat mereka jika terbukti mereka tercela kejujurannya. Perbuatan semacam itu bukanlah termasuk menggunjing yang diharamkan, tetapi termasuk nasihat yang diwajibkan. Kalimat''Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya.'' Kalimat umum ini maksudnya ialah bahwa seseorang apabila punya keinginan kuat untuk menolong saudaranya, maka sepatutnya harus dikerjakan, baik dalam bentuk kata-kata ataupun pembelaan atas kebenaran, didasari rasa iman kepada Allah ketika melaksanakannya. Dalam sebuah Hadist disebutkan tentang keutamaan memberikan kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan dan keutamaan seseorang yang menuntut ilmu. Hal itu menyatakan keutamaan orang yg menyibukkan diri menuntut ilmu. Adapun ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu syar'i dengan syarat niatnya adalah mencari keridhaan Allah, sekalipun syarat ini juga berlaku dalam setiap perbuatan ibadah. Kalimat''apabila berkumpul suatu kaum di salah satu masjid untuk membaca Al Qur'an secara bergantian dan mempelajarinya'', menunjukkan keutamaan berkumpul untuk membaca Al Qur'an bersama-sama dimasjid. Kata-kata ''sakinah'' dalam Hadist ada yang berpendapat maksudnya adalah rahmat. Akan tetapi pendapat ini lemah, karena kata rahmat disebut juga di dalam Hadist ini. Pada kalimat ''apabila berkumpul suatu kaum,'' kata ''kaum'' disebut dengan bentuk nakirah, maksudnya kaum apa saja yang berkumpul untuk melakukan hal seperti itu, akan mendapatkan keutamaan. Nabi Muhammad saw tidak mensyaratkan kaum tertentu, misalnya, ulama, golongan zuhud, atau orang-orang yang berkedudukan terpandang. Makna kalimat ''malaikat menaungi mereka'' maksudnya mengelilingi dan mengitari sekelilingnya, seolah-olah para malaikat dekat dengan mereka sehingga menaungi mereka, tidak ada satu celahpun yang disusupi setan. Kalimat''diliputi rahmat'', maksudnya dipayungi rahmat dari segala segi. Syaikh Syihabudin bin Fajar berkata: ''Menurut pendapatku, diliputi rahmat itu maksudnya ialah dosa-dosa yang telah lalu diampuni, Insya Allah.'' Kalimat''Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk-makhluk lain di sisi-Nya,'' mengisyaratkan bahwa Allah menyebutkan nama-nama mereka di lingkungan para Nabi dan para malaikat yang utama. Wallaahu a'lam biishawab,,,barakallahu fiikum wa jazakumullah khairan khatsir,,,, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

MEMBANTU KESULITAN SESAMA MUSLIM

Jumat, 24 Agustus 2012

MAKANLAH DARI REZEKI YANG HALAL

MAKANLAH DARI REZEKI YANG HALAL

Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,,,
Bissmillaahirrohmaanirrohiim,,,
Dari Abu Hurairah . r. a , ia berkata: '' Telah bersabda Rasullullah Saw: ''Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima se
suatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, maka Allah telah berfirman: 'Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih. Dan Dia berfirman:'Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu' . Kemudian Beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo'a: ''Wahai Tuhan, wahai Tuhan'', sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do'anya.'' (HR. Muslim )

Kata ''thayyib (baik)'' berkenaan dengan sifat Allah, maksudnya ialah bersih dari segala kekurangan.
Hadist ini merupakan salah satu dasar dan landasan pembinaan hukum Islam. Hadist ini berisi anjuran membelanjakan sebagian dari harta yang halal dan melarang membelanjakan harta yang haram. Makanan, minuman, pakaian, dan sebagainya hendaknya benar-benar yang halal tanpa bercampur yang syubhat.
Orang yang ingin memohon kepada Allah hendaklah memperhatikan persyaratan yang tersebut pada Hadist ini. Hadist ini juga menyatakan bahwa seseorang yang membelanjakan hartanya dalam kebaikan berarti ia telah membersihkan dan menumbuhkan hartanya. Makanan yang enak tetapi tidak halal menjadi malapetaka bagi yang memakannya dan Allah tidak akan menerima amal kebajikannya.
Kalimat''kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu'', maksudnya ialah menempuh perjalanan jauh untuk melaksanakan kebaikan seperti haji, jihad, dan perbuatan baik lainnya. Amal kebajikan tersebut tidak akan diterima oleh Allah bila yang bersangkutan makan, minum, dan berpakaian dari hasil yang haram. Lalu bagaimana lagi nasib orang-orang yang berbuat dosa di dunia atau berlaku zhalim kepada orang lain atau mengabaikan ibadah dan amal kebajikan?
Kalimat''menengadahkan kedua tangannya'', maksudnya berdo'a kepada Allah memohon sesuatu, namun dia tetap berbuat dosa dan melanggar aturan agama.
Kalimat''makanan haram..., maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do'nya'', maksudnya bagaimana orang yang perbuatannya semacam itu akan dikabulkan do'anya, karena dia bukanlah orang yang layak dikabulkan do'anya. Akan tetapi walaupun demikian, boleh saja Allah mengabulkan sebagai tanda kemurahan, kasih sayang dan pemberi karunia.
Wallahu a'lam biishawab
Barakallahu fiikum wa jazakumullah khairan khatsir...
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh